Posted by: Moh. Ghufron Cholid / Category:
Dina Ulvia
Aku..
Tak pernah minta diciptakan Tuhan untuk seperti ini.
Tak pernah ingin dilahirkan menjadi begini.
Beberapa orang memerankan tokohnya dalam kehidupanku.
Muncul. Hilang. Datang. Lalu pergi. Terkadang kembali lagi.
Berlalu lalang mengitari hidupku.
Aku tak pernah memusingkannya.
Tapi ada satu.
Dan aku tak bisa untuk tidak peduli terhadapnya.
Semoga semuanya kembali normal.
Dunia takkan hilang bersamaku.
Dunia pun takkan hilang bersamamu.

>>>>>Setelah menjelang dini hari.
Langit dan hati sama derasnya kali ini.
Hujan, ia datang mengiringi.
Baca selengkapnya »
Posted by: Moh. Ghufron Cholid / Category:
Dina Ulvia
Sore itu, di antara riuh ramai rekan sunser berseru-seru ria. Saya dan seorang sahabat menyusuri pantai. Berbagi cerita tentangnya. Tentang sesuatu yang selalu menjadi pertanyaan ketika saya mendengar sesuatu yang menyedihkan tentangnya, well..sesuatu telah terjadi kepadanya.
Saya jarang sekali bertemu dengannya. Kami hidup dan tinggal di kota berbeda.
Ini bukan curhat tentang kisah picisan yang menye-menye itu.
Melainkan kisah lelaki dan wanita yang terikat dalam ikatan suci, sahabat saya telah menikah.
Dia bercerita. Saya mendengarnya.
Dia berkisah. Saya menyimaknya.
Dia menjelaskan. Saya memahaminya.
Dia berbagi dengan saya tentang hal tersebut. Saya merangkul pundaknya dengan erat.
Kami sama-sama wanita.
Dia pun mengutarakan jika suatu saat “itu” terjadi. Dia tak akan khawatir lagi. Dia sudah tak takut lagi. Kami masih berjalan beriringan di atas pasir.
Baginya, itu sudah bukan hal yang menyiksanya beberapa waktu yang lalu.
Dia selalu siap untuk menghadapinya. Karena, sahabat saya sudah mulai letih untuk menangis.
Kami pun tak peduli dengan debur ombak yang pecah dan mulai pasang.
Menjilati kaki-kaki telanjang kami.
Sahabat saya itu kuat. Dia sabar. Dia begitu tabah.
Sahabat saya begitu menerima kodratnya sebagai wanita.
Ahh..saya pun hanyut. Saya menangis. Sahabat saya tidak.
Sudah saya katakan, dia lebih kuat daripada saya –pendengar setianya.
Mentari mulai membentangkan cahaya senjanya.
Saya bisikkan padanya :
“bahwa apapun yang terjadi, kamu masih punya saya. Saya dan teman yang lainnya. Yang akan selalu setia mendukungmu, menyayangimu, dengarkanmu..”
Saya memeluk dirinya erat. Mata saya basah. Dia tidak. Dia malah tertawa.
Sedikit embun bening mengalir di dinding hati saya. Dingin. Beku. Sejuk.
Seperti angin pantai parangtritis ini di sore hari.
Itu cukup membuat saya lega dan bangga. Sahabat saya wanita yang tegar
Dan dia baik-baik saja.
“Ini senja yang indah.”
Biodata Penulis
Baca selengkapnya »