Tampilkan postingan dengan label Moh. Ghufron Cholid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Moh. Ghufron Cholid. Tampilkan semua postingan

MALAM PERTAMA

Posted by: Moh. Ghufron Cholid / Category:

Posting cerpen by: moh. ghufron cholid
Total cerpen di baca: 4745
Total kata dlm cerpen: 998
Tanggal cerpen diinput: 13 Mar 2010 Jam cerpen diinput: 3:01 PM
1 Komentar cerpen


Oleh Moh. Ghufron Cholid

Herman ingin segera menikah dan ingin merasakan malam pertama. Herman ingin membuktikan kebenaran isi puisi karya sahabatnya, yang ditemukan berserakan di beranda rumahnya. Puisi yang sempat disimpan Herman dalam saku celananya, setelah menemukan, mengambil dan membaca isi puisi tersebut.Herman pun, ingin segera mengutarakan keinginannya kepada kedua orang tuanya, kepada Bapak Labib dan Ibu Herlin. Herman menghampiri Bapak Labib dan Ibu Herlin yang sedang duduk di ruang tamu. Herman mulai mengatur posisi duduk dan mulai membuka percakapan.”Ayah dan Ibu, Herman mau mengutarakan sesuatu!””Tentang apa Her?” tanya Bapak Labib dan Ibu Herlin serempak.“Tentang masa depan Herman!”“Memangnya, ada apa dengan masa depan kamu?”Herman diam sejenak dan mulai menarik nafas, lantas melanjutkan percakapannya.“Ayah dan ibu kan tahu, kalau Herman sudah besar!”Bapak Labib dan Ibu Herlin mengangguk. ”Trus” kata Bapak Labib dan Ibu Herlin serempak sambil memperhatikan Herman dengan tatapan serius namun bersahabat.“Herman, mau……?”“Katakan saja, tak usah malu-malu!”Herman diam. Herman mencoba menenangkan dirinya. Herman mencoba memberanikan dirinya, untuk mengutarakan isi hatinya.Tiba-tiba pintu berbunyi. Bapak Labib, segera menuju pintu dan membukanya. Herman mulai sedikit lega, paling tidak sampai Bapak Labib kembali ke tempat duduknya semula.Di luar pintu, Bapak Pos menyodorkan sebuah amplop coklat kepada Bapak Labib. “Dari siapa Pak?” “Bapak Ali, dari Jakarta!”“Terimakasih Pak!”Pak Pos sejenak diam sementara Bapak Labib menawarkan Pak Pos untuk masuk ke dalam rumahnya karena mau diberi hidangan. Namun Pak Pos, memilih pamit karena masih banyak tugas yang harus diselesaikan.Bapak Labib menganggukkan kepala sambil mengulurkan tangannya pertanda menerima permintaan Pak Pos. Perlahan, Bapak Labib memalingkan wajahnya dan segara masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan percakapan yang sempat tertunda. “Dari siapa Pak!” kata Ibu Herlin membuka percakapan.”Kiriman dari Ali, keluarga kita yang ada di Jakarta””Herman!”panggil Bapak Labib”Ya, Pak!””Lanjutkan apa yang hendak kamu sampaikan barusan!”Herman gugup. Herman diam. Menyadari tingkah Herman yang gusar, Ibu Herlin pun angkat bicara,”Pak, buka saja amplok itu! Siapa tahu kita akan menemukan sesuatu di dalamnya. Lagi pula, Ali sudah lama tidak mengirim amplop pada kita, pasti dia akan memberi kabar tentang dirinya dan keluarganya kepada kita, atau mungkin dia akan memberikan kejutan spesial untuk keluarga kita!”Herman mulai tenang dan bisa bernafas lega, paling tidak bisa lebih aman hingga Bapak Labib membuka isi amplop dan membacakan isinya di depan semua anggota keluarga Labib. ”Ada surat dan sebuah foto perempuan berjilbab di dalamnya.””Kita baca sejenak saja!” Ibu Herlin memberi usul disertai anggukan Herman sebagai tanda setuju. ”Mungkin ada baiknya, kalau kita baca saja berdua di dalam kamar, siapa tahu ada kejutan di dalamnya!” usul Bapak Labib.”Benar juga usul bapak!”Herman hanya bisa diam dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil memikirkan isi amplop yang baru diterima ayahnya dari Pak Pos.Akhirnya, Bapak Labib dan Ibu Herlin masuk kamar sementara Herman masih duduk di ruang tamu. Herman masih mencoba mengumpulkan keberanian dalam dirinya, agar Herman mampu mengutarakan keinginannya untuk cepat menikah dan bisa merasakan nikmatnya malam pertama. ###Ruang tamu masih tenang. Tak ada seorang pun yang duduk di kursi tamu, selain Herman.Pagi itu, Herman pun segera mengambil secarik kertas yang ada di saku celananya. Secarik kertas yang berisi puisi tentang malam pertama, karya sahabatnya yang ditemukan Herman di beranda rumahnya tanpa sengaja.Perlahan, Herman mulai membuka secarik kertas tersebut dan mulai membacanya, Malam PertamaBuah Pena Ibnu CholidKata orang malam pertama itu, sangat menakjubkan dan tak bisa dilukiskan.Kata orang malam pertama adalah puisi cinta yang paling didamba oleh dua jiwa yang saling bercinta. Kata orang malam pertama adalah surga yang tak pernah ditemukan di taman remaja.Herman mengulang-ulang membaca puisi tersebut dengan penuh penghayatan. Tanpa disadari Bapak Labib dan Ibu Herlin menghampiri Herman. ”Herman!” Bapak Labib membuka pembicaraan.”Ada apa ayah?””Ayah dan Ibu sepakat untuk....?”Herman terdiam. Herman mencoba mennenangkan dirinya dan mencoba mencari jawaban dari ucapan ayahnya yang belum selesai itu, sambil berdoa, Ya Allah berikanlah kabar yang menggembirakan bagi hambaMu ini. Kabulkanlah doa hamba, berikan jalan termudah bagi hamba agar hamba bisa cepat menikah dan bisa merasakan nikmat malam pertama.”Bapak dan Ibu punya kejutan buatmu. Tapi, kamu tenangkan dirimu terlebih dahulu!”Hati Herman berdegup kencang. Herman semakin penasaran. Herman duduk antara dua rasa yaitu antara penasaran dan senang.Penasaran lantaran Herman belum tahu, maksud perkataan ayahnya. Senang Herman bisa punya banyak waktu mengumpulkan keberanian dalam dirinya untuk mengutarakan keinginannya, cepat menikah dan bisa menikmati malam pertama. “Kami punya kabar baik untukmu!“Tentang apakah itu, ayah?”“Pamanmu Ali, berniat akan...,””Cepat katakan saja, Herman tidak sabar ingin mengetahui kabar baik itu!” “Sabar dan tenangkan dirimu! Baiklah, ayah akan memberimu kabar baik bahwa pamanmu akan menikahkanmu dengan…, ”“Menikah!””Ya, pamanmu akan menikahkanmu dengan putri bungsunya bernama Yulia. Perempuan yang sangat anggun di balik jilbabnya. Perempuan yang sangat santun tutur katanya. Perempuan yang sangat sopan tingkah lakunya!””Coba ulangi perkataan ayah! pinta Herman kepada ayahnya dengan penuh iba, seakan-akan Herman tidak percaya dengan kabar baik yang diterimanya.“Paman Alimu, akan menikahkanmu dengan putri bungsunya, Yulia”Herman pun segera sujud syukur atas kabar baik yang baru diterimanya sambil berbisik dalam hatinya, asyik aku akan segera menikah dan aku akan segera mengetahui dan akan segera membuktikan kebenaran isi puisi yang ditulis sahabatku. Terimakasih ya Allah sebab Kau telah memberika kejutan yang sangat membahagiakan bagiku.Beberapa hari kemudian, Herman dan Yulia menikah. Mereka pun menikmati malam pertamanya, dengan sangat bahagia. Lantas, Herman pun berkata, kenapa tidak dari dulu aku menikah, rasanya aku tak mau waktu cepat berlalu membawa kemesraan cumbu. Al-Amien,

09 Januari 2010
Sumber http://cerpen.net/cerpen-cinta/malam-pertama.html


Baca selengkapnya »

MERAH YANG PENUH GAIRAH

Posted by: Moh. Ghufron Cholid / Category:

Kolaborasi Puisi antara penyair M.E (Marhaeni Eva)dan Moh. Ghufron Cholid
http://www.facebook.com/note.php?created&&suggest&note_id=382329546045#!/note.php?note_id=३८२३२९५४६०४५

MERAH

Kau selalu mengenakan baju merah
Sebab merah mengingatkanmu pada warna dan anyir darah
Darah korban pembantaian yang tak diberi hak mengungkap kesaksian
Darah penyaliban yang memberangus hakikat kebenaran
Dan darah perempuan yang membungkus janin di rahim ketidakberdayaan
Kau selalu menyukai warna merah
Sebab merah menjagamu pada kesetiaan cinta yang kau sakralkan
Dan kesetiaan sebagai saksi atas rahasia yang luput dari mata sejarah
Kesaksian atas aib yang hendak dihapuskan dari silsilah

M.E - Yogyakarta, Mei 2009

LAMBANG CINTA PENUH GAIRAH

Merah hidupmu
Amarah dan gairah
Dalam mengasah sejarah

Merah hidupmu
Tanda cintamu
Melukis cumbu
Tak perduli walau menjadi abu


Al-Amien, 02 April 2010


Baca selengkapnya »

MENGGAMBAR LUKA DALAM WARNA

Posted by: Moh. Ghufron Cholid / Category:

Kolaborasi Puisi antara penyair M.E dan Moh. Ghufron Cholid
http://www.facebook.com/note.php?note_id=382326946045

UNGU

Dalam ungu kuresapi duka ibu yang terpasung waktu

Elegi yang tak pernah terbaca mata dendam yang dungu

Ungu adalah semburat trauma dari birunya luka

Luka yang diasamkan genangan airmata dalam perjalanan lamban menempuh samudra

“terlalu getir sejarah itu, nak, jangan lagi anak cucu mengalami” wanti-wanti para ibu

Namun hingga kini kaumku tetap menganyam lembaran hidupnya dalam sejarah muram.

ME -- Yogyakarta, Mei 2009

MENGGAMBAR LUKA DALAM WARNA
Teruntuk Penyair M.E

Menggambar luka dalam warna
Semisal mengekalkan tanda di beranda masa... Lihat Selengkapnya
Semua bunga bisa membaca
Ada yang hanya menikmati warna
Ada pula menggali sumber makna
Di kedalaman kata

Al-Amien, 02 April २०१०


Baca selengkapnya »

MELATIH HIDUP LEBIH MENGENAL JATIDIRI

Posted by: Moh. Ghufron Cholid / Category:

(esai)
Sebuah Ulasan Sajak-sajak Pencandu Hujan

Membaca dua puisi tentang bunda karya sahabat FB yang satu ini, kita diajak untuk selalu mengingat dan berbakti kepada bunda. Orang yang telah melahirkan kita. Orang telah banyak berkorban untuk kita. Orang yang telah banyak memberikan senyumnya untuk kita tanpa pernah minta balas jasa.
Dalam puisi pertama berjudul bunda seperti yang tertera di bawah ini,


BUNDA

bunda...
izinkan aku
tuk bersimpuh dan mencium kakimu
sekali saja
agar engkau tahu
betapa aku bukan siapa-siapa
tanpa campur tanganmu......

Sahabat yang hanya menyebutkan dirinya pecandu hujan, dengan sadar dan tulus, sahabat yang satu ini (pecandu hujan) melukiskan betapa besar jasa seorang ibu. Betapa aku lirik dengan sangat tawadu' mengakui bahwa dirinya tak berarti tanpa bantuan seorang ibu. Tanpa kasih sayang seorang ibu.
Hal secaman ini, mengajak kita merenung dan belajar untuk menghormati seorang ibu dengan penuh ketulusan.
Sedangkan pada puisi berjudul maafkan bunda (pecandu hujan) mengingatkan seluruh ibu yang memiliki buah hati, untuk senantiasa mengingat jatidirinya sebagai seorang ibu dan betapa seorang ibu tak berarti tanpa dukungan dari anak-anaknya sebab anak-anaknya yang membuat seorang ibu berlatih lebih sabar, lebih mengerti dalam memahami hidup.
Pecandu Hujan menempatkan diri dalam dua puisinya dalam posisi yang netral, di satu sisi dia mengingatkan kita sebagai seorang anak yang harus berbakti kepada ibunya lantaran jasa ibu yang begitu besar. Namun di sisi lain, pencandu hujan menegaskan jatidirinya sebagai seorang ibu. menurut hemat saya, pecandu hujan ingin mengingat seluruh kaum ibu untuk lebih peka dengan keadaan anak-anaknya. Untuk tidak egois dalam mengatur anak-anaknya namun tegas demi kebaikan hidup anak-anaknya. Semuanya bisa kita saksikan dengan gamblang dalam puisi di bawah ini
---------------------------------------------------------------

MAAFKAN BUNDA

Anak-anakku
Kalianlah penyejuk hati bunda
Kala bunda merasa letih
Menapaki jalan hidup yang terkadang penuh kerikil
Maafkan bunda......
Yang tak pernah mengerti perasaan kalian
Yang tak peka akan tangisan dan isak kalian
Bunda paham..
Kalian rindu kita berkumpul seperti dulu lagi
Kalian rindu kebebasan bermain
Seperti layaknya anak-anak lain
Namun bunda hanya manusia biasa
Penuh dengan kelemahan dan tiada sempurna
Yang tak bisa menjadi segalanya untuk kalian
Bunda hanya wanita biasa
yang terus berusaha untuk membahagiakan kalian
Menjadikan hari-hari kita berarti dan penuh makna
Menjadikan masa kecil kalian berharga untuk dikenang
Bunda berjanji, kita akan bahagia
Walau hanya bertiga....................
Kalian milik bunda........bunda milik kalian......

* Penuh cinta dan kasih sayang untukmu..Hafidz dan Rayna...
Dengan demikian membaca dua puisi pecandu hujan akan lebih menjadikan diri kita semakin memahami jatidiri kita baik sebagai anak mau pun sebagai orang tua. Di penutup puisinya, pecandu hujan semakin mempertegas tentang pentingnya kebersamaan hal ini tampat jelas dalam puisinya Kalian milik bunda........bunda milik kalian......Akhirnya saya hanya bisa mengucapkan terimakasih atas kerelaannya dalam memberi izin kepada saya untuk mengulas dua puisi pecandu hujan ini.

Al-Amien, 13 Maret 2010



Ilustrasi yang saya ambil di not pecandu hujan


Baca selengkapnya »

KENANGAN SAAT BERSAMA

Posted by: Moh. Ghufron Cholid / Category:



Biarkan dinding dan jendela bercerita
Ejaan-ejaan kebersamaan pun bisa kita baca
Rindu yang selu menari
Saat-saat indah dalan kebersamaan
Akan selalu mengingatkan kita
Menatap sunyi tanpa sahabat-sahabat sejati
Akan tak berarti dan sangat mengiris hati

Al-Amien, 2002-2010


Baca selengkapnya »

KISAH CINTAMU DAN DOAKU

Posted by: Moh. Ghufron Cholid / Category:

Teruntuk guruku Nyai Hj. Zahrotul Wardah

Namun tahajjud sunyi
Yang kau pilih menjadi puisi
Akan selalu memikat hati
Ilahi pun meridlai

Halaman tunggumu
Jiwa yang selalu merindu

Zaman mengerlingkan mata
Akan kau rundukkan pandangan lantaran setia
Hizib-hizib cintamu kau hadiahkan pada permata hatimu
Rindumu selalu kau terjemahkan dalam gerakmu
O guruku
Tanda baktimu pada permata hatimu
Ulasan setiamu
Lintasan jalan cinta dan cumbumu

Walau aku tak lahir dari rahimmu
Aku masih anakmu
Rindang pohon doamu
Di halaman tanah jauhari
Akan meneduhiku
Hanya pada Allah aku berdoa semoga kau dan permata hatimu selalu menjadi cahaya

Al-Amien, 11 Maret 2010


Baca selengkapnya »

KEBERSAMAAN KITA

Posted by: Moh. Ghufron Cholid / Category:

Teruntuk guruku tercinta KH. Moh. Idris Jauhari

Kau hadiahkan buah ilmu
Hingga hilang laparku

Mengeja kebersamaan kita
O guruku
Halaman silaturahmiku semakin hijau

Impianmu yang telah kuterjemahkan
Dalam bait-bait hidupku
Ringkasan mutiara hikmahmu
Itulah tempatku bercermin
Sesekali mengingatkanku betapa rindang pohon kasihmu

Jalan yang kau tempuh
Adalah hamparan sejarah
Untukku melangkah
Hingga aku bisa meraba jaman
Antarkan aku dengan doamu, guruku
Resahku yang menjelma guyuran hujan di halaman tungguku
Itulah yang akan segera reda beriring ridla Tuhan

Al-Amien, 2010


Baca selengkapnya »

RISALAH KEMATIAN

Posted by: Moh. Ghufron Cholid / Category:

Teruntuk guru tercinta Alm. Kh. Moh. Tidjani Djauhari, MA

Alangkah indah risalah kematianmu
Lintasan jalanmu bermekaran bunga doa
Melukis megah istirahmu yang penuh ridla

Ketika kau memilih bertatap dengan Ilahi
Hizib-hizib juangmu memikat hati

Menyaksikanmu menuju taman istirah
O guru
Hanya puisi yang bisa kuberikan

Tak kuasa hati ini membendung gelombang rindu
Ingatan demi ingatan menyapaku
Dalam hening embun katamu menyejukkan hatiku
Jerami hikmahmu
Akan selalu menggodaku
Niat tulus yang kau terjemahkan dalam gerakmu
Itu cermin saat aku akan melangkah

Dan kini
Jasadmu berselimut debu namun bunga juangmu selalu mekar di taman hatiku
Aku selalu ingin meniru
Ulasan jejakmu
Hanya saja
Aku belum mampu
Rasa ini pun selalu meminta
Ilahi agar senantiasa menjadikanku sepertimu

Mengeja risalah kematianmu, o guruku
Aku hanya bisa berbagi cerita lewat puisi

Al-Amien, 2007-2010


Baca selengkapnya »

TEKA-TEKI CINTA

Posted by: Moh. Ghufron Cholid / Category:

TEKA-TEKI CINTA
“Ihsan kamu harus menikah dengan uswah!”
”Menikah!”
”Ya, kamu harus menikah dengan Uswah!”
”Kenapa harus dengan Uswah?”
”Kamu akan hidup bahagia!”
”Semudah itukah?”
”Ya!”
”Memang apa kelebihan Uswah?”
”Banyak!”
”Bukankah dia, hanya seorang perempuan desa!”
”Memang kenapa, kalau dia seorang perempuan desa?”
”Dia pasti punya pengetahuan yang terbelakang dan tidak bisa diandalkan!”
”Kamu tidak boleh menilai seseorang, hanya dari asalnya saja!”
”Memang begitu kenyataannya, semua orang desa pasti sama! Tidak punya malu, seperti Maryamah yang kamu tawarkan padaku dulu!”

###
Percakapan Ihsan dan Hasan terhenti. Hanya desir angin yang mereka biarkan berdesir dan menyisir rambut serta kenangan masa lalu mereka.
”Uswah tidak seperti Maryamah! Uswah orangnya santun dan masih polos!”
”Bukankah pernyataan seperti itu, sudah pernah kamu lontarkan padaku!”
”Kalau Uswah, aku sudah melakukan pengamatan dengan sangat teliti, aku harap kamu mengerti! Ini sebagai penebus kesalahanku di masa lalu karena telah cerobah dalam memilihkan calon pendamping hidupmu!
”Tidak semudah itu Hasan! Hatiku masih sakit, terlebih bila mengingat kenangan masa laluku bersama Maryamah yang suram itu!”
”Aku mengerti apa yang kamu rasakan Ihsan, menghilangkan perasaan trauma masa lalu tidaklah mudah!”
”Lantas kenapa kamu masih memaksaku untuk menikah dengan Uswah?”
”Karena aku yakin, sudah tiba saatnya kamu bangkit dari trauma masa lalumu yang suram! Sudah saatnya pula, kamu hidup di dunia nyata tanpa harus berdiam diri dalam penyesalan yang hanya akan menyiksamu saja!”
”Baiklah, akan aku pekirkan dulu! Aku tidak mau, kenyataan pahit menimpaku lagi!”
###
Perlahan bayangan Maryamah, terus menari dalam ingatan Ihsan. Perempuan desa yang pernah mengecewakan perasaannya, seakan-akan tersenyum sinis melihat keadaaan Ihsan.
Maryamah, aku sangat membencimu. Maryamah, aku sangat kecewa padamu, sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkanmu. Maryamah, demi harta kamu telah menggadaikan cintaku. Maryamah, demi harta kamu tega membuat hidupku memenderita. Maryamah, tak kusangka hatimu bisa mendua. Kamu bisa membagi cintamu, tak hanya denganku. Kamu membagi cintamu, dengan lelaki yang lebih gagah dan lebih kaya dariku.
Maryamah, cintamu palsu. Janjimu palsu. Kamu hanya mencintai, hartaku saja. Kamu tak pernah mencintaiku. Buktinya, setelah aku miskin, kamu berpindah hati. Kamu hanya iblis, yang menjelma manusia. Ihsan tidak henti-hentinya, meluapkan semua rasa kekecewaannya kepada Maryamah sambil membanting foto Maryamah ke lantai.
Tiba-tiba pintu rumah Ihsan berbunyi.
”Siapa di luar?”
”Aku, Hasan!”
”Silahkan masuk!”
Hasan masuk dan langsung menuju Ihsan. Dari kejauhan, Hasan mengamati prilaku Ihsan. Hasan sangat iba, pada Ihsan. Hasan merasa sangat berdosa, karena telah mengenalkan Maryamah dan menikahkan Maryamah dengan Ihsan.
”Ihsan, kamu tidak boleh terlalu sedih!” kata Hasan dengan lembutnya dan sangat hati-hati.
Ihsan hanya terdiam, mendengarkan nasehat sahabatnya.
”Hasan, kamu harus mengerti perasaanku!”
”Aku mengerti, tapi kamu sudah keterlaluan!”
”Ini semua berkat ulahmu juga!” Ihsan naik pitam.
Hasan terdiam. Tanpa kata. Hasan menyadari kesalahannya.
”Aku minta maaf, oleh sebab itu aku datang kemari untuk menebus seluruh kesalahanku di masa lalu!”
”Semudah itukah, kamu menghapus seluruh perih dalam hatiku?”
”Aku sadar, permintaan maafku tidak bisa menghapus perih dalam hatimu. Namun, Insya Allah Uswah yang aku tawarkan untuk menjadi pendamping hidupmu kali ini, bisa menghilangkan rasa kekecewaanmu kepada Maryamah. Tak hanya itu, Uswah bisa memberikan kebahagiaan untukmu dengan kesetiannya.”
”Sudahlah, jangan berlagak alim di depanku. Kata Insya Allah terlalu indah dan terlalu suci untuk diucapkan. Kamu tidak pantas mengucapkan kalimat mulia itu!”
Hasan diam, mencoba tabah terlebih setelah menyadari kesalahan yang pernah diperbuat di masa lalu kepada Ihsan.
”Memang aku akui, ini terkesan begitu cepat. Namun aku mulai terbiasa mengucapkan kalimat tersebut, setelah aku mengenal KH. Latif!”
”Memangnya, siapa KH. Latif itu?”
“Ayahnya Uswah, calon mertuamu!”
“Memang apa yang telah kamu katakan kepada KH. Latif!”
”Aku menceritakan kisah masa lalumu yang suram! Aku menceritakannya, dengan penuh kesungguhan hati sembari mengharap keajaiban dari Allah. Barangkali setelah itu, aku bisa menebus kesalahanku di masa lalu kepadamu!”
”Bagaimana respon KH. Latif, ketika mendengar ceritamu?”
“Responnya baik dan menghadiahkan Uswah sebagai calon pendamping hidupmu. Uswah pun, sudah menyetujui permintaan ayahnya!”
“Bagaimana dengan penampilan Uswah? Dia tidak kampungan kan! Dia tidak bermata duitan bukan!” Lagi-lagi pernyataan kasar Ihsan terlontar, setelah bayangan Maryamah hinggap dibenaknya.
”Insya Allah kamu akan bahagia hidup bersama Uswah!”
Ihsan diam, hanya angin dibiarkan menyisir rambutnya. Ihsan merenung.
“Yakinkan hatimu, Uswah itu perempuan terbaik yang telah dianugrahkan Allah!”
”Bismillah, aku terima tawaranmu, semoga ini menjadi awal kebahagian dalam hidupku dan aku akan berusaha untuk membuat Uswah bahagia, agar dia tidak mengalami kenyataan pahit seperti yang telah aku alami!”
”Kalau begitu, mari kita membaca basmalah” Ajak Hasan sambil menggandeng tangan Ihsan.
Akhirnya, Mereka pun berangkat menuju kediaman KH. Latif untuk menemui KH. Latif dan membicarakan tentang pernikahan Ihsan dengan Uswah.

Al-Amien, 09 Januari 2010

Biodata Penulis
Ia adalah salah seorang pembina sanggar sastra al-amien dan pada tahun 2005 ikut memeriahkan hari puisi sedunia dengan ikut berpartisipasi dalam lomba cipta puisi. Puisi yang diikutkan berjudul Madura, Izinkan Aku Melukismu. Karya-karyanya bisa dibaca diberbagai media Online dan ada juga yang telah dibukukan.


Baca selengkapnya »