Sore itu, di antara riuh ramai rekan sunser berseru-seru ria. Saya dan seorang sahabat menyusuri pantai. Berbagi cerita tentangnya. Tentang sesuatu yang selalu menjadi pertanyaan ketika saya mendengar sesuatu yang menyedihkan tentangnya, well..sesuatu telah terjadi kepadanya.
Saya jarang sekali bertemu dengannya. Kami hidup dan tinggal di kota berbeda.
Ini bukan curhat tentang kisah picisan yang menye-menye itu.
Melainkan kisah lelaki dan wanita yang terikat dalam ikatan suci, sahabat saya telah menikah.
Dia bercerita. Saya mendengarnya.
Dia berkisah. Saya menyimaknya.
Dia menjelaskan. Saya memahaminya.
Dia berbagi dengan saya tentang hal tersebut. Saya merangkul pundaknya dengan erat.
Kami sama-sama wanita.
Dia pun mengutarakan jika suatu saat “itu” terjadi. Dia tak akan khawatir lagi. Dia sudah tak takut lagi. Kami masih berjalan beriringan di atas pasir.
Baginya, itu sudah bukan hal yang menyiksanya beberapa waktu yang lalu.
Dia selalu siap untuk menghadapinya. Karena, sahabat saya sudah mulai letih untuk menangis.
Kami pun tak peduli dengan debur ombak yang pecah dan mulai pasang.
Menjilati kaki-kaki telanjang kami.
Sahabat saya itu kuat. Dia sabar. Dia begitu tabah.
Sahabat saya begitu menerima kodratnya sebagai wanita.
Ahh..saya pun hanyut. Saya menangis. Sahabat saya tidak.
Sudah saya katakan, dia lebih kuat daripada saya –pendengar setianya.
Mentari mulai membentangkan cahaya senjanya.
Saya bisikkan padanya :
“bahwa apapun yang terjadi, kamu masih punya saya. Saya dan teman yang lainnya. Yang akan selalu setia mendukungmu, menyayangimu, dengarkanmu..”
Saya memeluk dirinya erat. Mata saya basah. Dia tidak. Dia malah tertawa.
Sedikit embun bening mengalir di dinding hati saya. Dingin. Beku. Sejuk.
Seperti angin pantai parangtritis ini di sore hari.
Itu cukup membuat saya lega dan bangga. Sahabat saya wanita yang tegar
Dan dia baik-baik saja.
“Ini senja yang indah.”
- Ia adalah seorang Mahasiswi di Islamic Institute of SUPEL Surabaya '07
- Fav0rable Tarbiyah
Baca selengkapnya »
Lagi Lihat apa Bang
Lagi Mikir
Lagi Nyari Jalan Nemu yang Buntu Truz
Lg Main Gitar Nich
Baca selengkapnya »
Hanya panas terik matahari yang memiliki arti khusus siang ini bagiku ; sumber keringat, haus dan dahaga sekaligus berpotensi menyuburkan bau ketiak yang membuatku siaga 1 untuk selalu siap menerima “serangan” orang-orang yang mengenalku, menyapaku, lalu mengajak berbincang yang tidak mungkin kulayani dari jarak jauh.
Selain terik matahari, tidak ada yang spesial, tidak ada kebakaran dirumah penduduk dari arus pendek listrik dan kebocoran selang tabung gas. Tidak ada korban jiwa, tidak ada kerugian material, dan parahnya lagi, tidak ada apa-apa.
Angin puting beliung yang merobohkan baleho raksasa di pinggir jalan dan merusak fasilitas halte kampus, juga tidak ada....
Kali ini perhatianku teralihkan, kulihat embun segar yang menetes satu demi satu dipinggiran gelas es teh yang menandai kesegaran teh tersebut kalau sampai numpang lewat di tenggorokan yang sedari tadi memiliki hak paling besar untuk berontak dari haus yang menjajahnya.
Setelah menghampiri penjual es teh “Poci”, kuambil dompet “super setia”-ku dari kantong belakang jeans yang juga “super setia” untuk membeli segelas kesegaran dari teh Pocinya, aku mengambil posisi dan duduk dikursi yang telah disediakan menjelang pesta es tehku sebagai bentuk lain dari surga siang ini. Sambil menghayati dengan penuh penghayatan es teh yang kupegang, kujelajahi jalan pesanggrahan lewat pandangan menyelidik. Ramai dan padat karena lokasinya tepat berada di samping kampus yang menjadikannya pusat perdagangan terbesar di sekitar area kampus.
Kutatap satu persatu-satu orang yang berlalu lalang, sebagian besar adalah mahasiswa dan mahasiswi. Aku melayang menuju alam ide. Terlintas sebuah pikiran, jika setiap orang yang lewat ini direkam secara terus-menerus 24 nonstop kehidupan sehari-harinya dalam sebuah video. Aku yakin 70% hasil rekamannya akan bernasib kena delete pada proses editing film berlangsung. Inilah hidup yang membosankan….
Ditengah kenikmatan menyedot teh, tiba-tiba kudengar suara mencercau tak jelas, ditambah dengan bunyi “kecrekan” dari kumpulan tutup botol yang tak punya nada dan irama. Kucari sumber suara kacau tersebut. Setelah gagal menemukannya saat menoleh kekanan, akhirnya kutemukan gangguan surga siangku hari ini pada saat menoleh kekiri. Seorang bocah kecil, umurnya kira-kira tak lebih dari 4 tahun, penuh kudis dengan kaus dan celana pendek yang robek disana-sini.
Sesudah melewati dua kali penolakan dari 2 orang disampingku, anak itu mulai membuatku khawatir, dia mendekatiku…. Selama ini aku selalu menghormati pengamen, selama ada uang lebih, selama itu juga selalu kusisihkan uang untuk pengamen yang datang dan menghiburku. Konser live musisi jalanan pikirku..
Tapi tidak untuk anak ini, tak ada yang ia sajikan. Jika yang ia tadi lakukan adalah menyanyi, bagiku sama nilainya seperti orang iseng yang kentut disertai suara. Baunya tegas, namun suaranya lebih memilih keluar sedikit, lalu sedikit lagi, lalu sedikit lagi, dan selesai. Bukan hanya tidak menghibur, lebih dari itu, ia mengganggu ketertiban pribadiku.
Kalau saja simpati yang ia harapkan. Aku orang yang pertama menolak cara picisannya. Karena menurutku selalu ada celah bagi seseorang untuk berusaha, bukan lantas putus asa dan memamerkan kelemahannya demi menangguk rasa iba dari orang lain.
Anak itu semakin dekat, akupun semakin siap meladeninya dengan ceramah, nasehat, makian, hujatan dan berujung penolakan memberi uang. Setelah tiba didepanku, anak itu kemudian menjulurkan tangan kirinya, kurang ajar!!!
Puncak kekesalanku akhirnya kumuntahkan dengan bahasa yang agak sederhana ;
5 jari yang terbuka menghadap si bocah dengan senyum tipis yang kulengkapi dengan dua kata datar dan singkat “Maaf dek…”
Ia terus menjulurkan tangannya, aku keukeuh mengabaikannya. Perang dingin ini berlangsung cukup alot dan lama, 10 detik, butuh waktu sekitar 10 detik bagiku untuk mengabaikannya, anak itu lantas pergi dan mencari mangsa selanjutnya. Aku mengelus dada, ada himpitan di dada yang seketika tercerabut. Lega rasanya berhasil menolak memberi uang secara tega-tegaan.
Kutuntaskan pesta teh siang saat ini juga. Setelah mengucapkan terima kasih kepada penjual teh, aku berdiri melanjutkan perjalanan pulang menuju kost. Ada energi tambahan untuk bertarung kembali melawan terik matahari yang masih membelai ubun-ubunku.
Setelah sekitar sepuluh menit meninggalkan TKP surga siang tadi, aku terhenyak ketika melintasi jalan dan tertarik seluruh pandanganku kepada sebuah gang kecil di kanan jalan tempatku melintas.
Bocah itu menangis , didepannya ada mata garang yang memelototinya. Kakaknya, aku yakin dia adalah kakaknya. Mereka mirip secara fisik satu sama lain. Kakaknya yang umurnya berkisar 5 tahun lebih tua dari bocah kudisan tersebut terus menampar adiknya, menanyainya, memukulnya, menanyainya lagi dan menamparnya lagi.
“MANA DUITNYA..??? MASA’ DARI TADI CUMA DAPET TIGA REBU? PASTI LU UMPETIN!!! MANAAA!!!” teriak sang kakak.
Tak terhitung jumlah pukulan dan tamparan yang berlabuh di pipi bocah kecil ini. Bagiku ini lebih thriller dari film Jaws atau korban perang Israel-Palestina di Gaza. Karena kejadiannya langsung kusaksikan didepan mata kepalaku sendiri, siaran langsung tanpa iklan.
Tangisan sang bocah hanya membuat tangan kakaknya semakin professional memukul. Kepalaku tiba-tiba serasa dijatuhi berton-ton rasa bersalah. Bocah itu terus meneteskan air mata tanpa berani mengerang, sesekali ia terjatuh atau sekedar jongkok untuk menghindari rasa sakit yang tak kunjung berakhir itu. Tapi kakaknya yang berperan sebagai algojo siang ini memaksa sang bocah untuk tetap berdiri. Bocah kecil kudisan itu hanya menjawab segalanya dengan tangisan pilu.
Setelah puas menahan penyesalan, aku putuskan untuk ikut campur mengakhiri adegan tak senonoh ini, kuhampiri mereka berdua. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah kulewati, tiba-tiba terdengar teriakan memanggil dari kejauhan. “Asrori!!!”, itu Very, tangannya mengisyaratkan kepadaku untuk segera menghampirinya. “Cepetan!!. Penting…” lanjut Very. Kuambil dompet “super setiaku”, kuambil satu lembar uang sepuluh ribuan, lalu kulemparkan ketengah panggung pembantaian tadi.
Aku berlari-lari kecil menuju Very, ada janji yang kutekadkan dalam hati, akan kupanjatkan doa yang maha tulus di sepertiga malamku nanti khusus untuk bocah kecil kudisan tersebut.
Ya Allah, jika deritanya adalah proses kehidupan yang tak bisa ia hindari, maka berikanlah kekuatan atas anak itu…
Akupun menghampiri Very, wajahnya terlihat samar. Keramaian di jalan Pesanggrahan terlihat serba samar, semuanya kemudian gelap. Hanya tangisan bocah itu yang masih nyaring terngiang di telingaku.
Jakarta, 2010
Baca selengkapnya »
MELATIH HIDUP LEBIH MENGENAL JATIDIRI
Posted by: Moh. Ghufron Cholid / Category: Moh. Ghufron Cholid(esai)
Sebuah Ulasan Sajak-sajak Pencandu Hujan
Membaca dua puisi tentang bunda karya sahabat FB yang satu ini, kita diajak untuk selalu mengingat dan berbakti kepada bunda. Orang yang telah melahirkan kita. Orang telah banyak berkorban untuk kita. Orang yang telah banyak memberikan senyumnya untuk kita tanpa pernah minta balas jasa.
Dalam puisi pertama berjudul bunda seperti yang tertera di bawah ini,
BUNDA
bunda...
izinkan aku
tuk bersimpuh dan mencium kakimu
sekali saja
agar engkau tahu
betapa aku bukan siapa-siapa
tanpa campur tanganmu......
Sahabat yang hanya menyebutkan dirinya pecandu hujan, dengan sadar dan tulus, sahabat yang satu ini (pecandu hujan) melukiskan betapa besar jasa seorang ibu. Betapa aku lirik dengan sangat tawadu' mengakui bahwa dirinya tak berarti tanpa bantuan seorang ibu. Tanpa kasih sayang seorang ibu.
Hal secaman ini, mengajak kita merenung dan belajar untuk menghormati seorang ibu dengan penuh ketulusan.
Sedangkan pada puisi berjudul maafkan bunda (pecandu hujan) mengingatkan seluruh ibu yang memiliki buah hati, untuk senantiasa mengingat jatidirinya sebagai seorang ibu dan betapa seorang ibu tak berarti tanpa dukungan dari anak-anaknya sebab anak-anaknya yang membuat seorang ibu berlatih lebih sabar, lebih mengerti dalam memahami hidup.
Pecandu Hujan menempatkan diri dalam dua puisinya dalam posisi yang netral, di satu sisi dia mengingatkan kita sebagai seorang anak yang harus berbakti kepada ibunya lantaran jasa ibu yang begitu besar. Namun di sisi lain, pencandu hujan menegaskan jatidirinya sebagai seorang ibu. menurut hemat saya, pecandu hujan ingin mengingat seluruh kaum ibu untuk lebih peka dengan keadaan anak-anaknya. Untuk tidak egois dalam mengatur anak-anaknya namun tegas demi kebaikan hidup anak-anaknya. Semuanya bisa kita saksikan dengan gamblang dalam puisi di bawah ini
---------------------------------------------------------------
MAAFKAN BUNDA
Anak-anakku
Kalianlah penyejuk hati bunda
Kala bunda merasa letih
Menapaki jalan hidup yang terkadang penuh kerikil
Maafkan bunda......
Yang tak pernah mengerti perasaan kalian
Yang tak peka akan tangisan dan isak kalian
Bunda paham..
Kalian rindu kita berkumpul seperti dulu lagi
Kalian rindu kebebasan bermain
Seperti layaknya anak-anak lain
Namun bunda hanya manusia biasa
Penuh dengan kelemahan dan tiada sempurna
Yang tak bisa menjadi segalanya untuk kalian
Bunda hanya wanita biasa
yang terus berusaha untuk membahagiakan kalian
Menjadikan hari-hari kita berarti dan penuh makna
Menjadikan masa kecil kalian berharga untuk dikenang
Bunda berjanji, kita akan bahagia
Walau hanya bertiga....................
Kalian milik bunda........bunda milik kalian......
* Penuh cinta dan kasih sayang untukmu..Hafidz dan Rayna...
Dengan demikian membaca dua puisi pecandu hujan akan lebih menjadikan diri kita semakin memahami jatidiri kita baik sebagai anak mau pun sebagai orang tua. Di penutup puisinya, pecandu hujan semakin mempertegas tentang pentingnya kebersamaan hal ini tampat jelas dalam puisinya Kalian milik bunda........bunda milik kalian......Akhirnya saya hanya bisa mengucapkan terimakasih atas kerelaannya dalam memberi izin kepada saya untuk mengulas dua puisi pecandu hujan ini.
Al-Amien, 13 Maret 2010
Ilustrasi yang saya ambil di not pecandu hujan
Baca selengkapnya »

Biarkan dinding dan jendela bercerita
Ejaan-ejaan kebersamaan pun bisa kita baca
Rindu yang selu menari
Saat-saat indah dalan kebersamaan
Akan selalu mengingatkan kita
Menatap sunyi tanpa sahabat-sahabat sejati
Akan tak berarti dan sangat mengiris hati
Al-Amien, 2002-2010
Baca selengkapnya »
KEBUTUHAN MADURA AKAN BUDAYA YANG TERBAHARUI (Part 1)
Posted by: Moh. Ghufron Cholid / Category: Asrori IlyasKonflik global budaya universal
“Sesungguhnya telah kami ciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan kami jadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kalian saling mengenal”
***
Mendiskusikan perihal kebudayaan, sama melelahkannya dengan membongkar habis masalah kemanusiaan yang tak pernah kunjung selesai jika harus dibicarakan. Antara budaya dan manusia, sudah selayaknya tidak lagi ada segmentasi yang membatasi keduanya, sama halnya dengan melangkahkan kaki diatas pasir atau lumpur, budaya akan secara otomasis muncul sebagai jejak langkah yang tak bisa disangkal keberadaanya.
Kemunculan budaya pada setiap pranata kehidupan masyarakat memberikan ruang gerak pada setiap individu untuk melakukan proses pengembangan diri sebagai bukti kelangsungan hidup yang terus berlanjut dan berkembang.
Bagi sebagian pihak, hal tersebut merupakan sebuah ironi yang berpotensi memunculkan konflik yang lahir dari kemajemukan budaya yang ada. Demi menghindari efek domino dari konflik yang dikhawatirkan muncul, ironi tersebut akhirnya menyumbangkan sebuah cita-cita baru untuk mempersembahkan kepada umat manusia derajat yang sama rata, kualitas kehidupan yang sama, hak asasi manusia yang tidak pula berbeda, yakni modernism.
Penekanan pada artikulasi kata modern pada sebagian pihak berdampak sangat baik, khususnya bagi mereka yang berasal dari benua-benua penggagasnya seperti di Eropa dan Amerika. Namun, di akhir abad ke-19, kaum poskolonialis dan posmodernis memberikan hantaman besar kepada modernisme sekaligus melayangkan tuduhan, atau mungkin sebuah pelucutan secara vulgar kedok-kedok penjajahan gaya baru terutama terhadap Negara-negara dunia ketiga yang kerap kali menjadi korban penyatuan visi peradaban barat.
Kritik kaum poskolonialis banyak menyadarkan sejumlah pihak yang telah merasa sedikit demi sedikit terhapuskan jati dirinya dari permukaan dunia. Namun jika kita simak cermati, dampak baru yang sekarang mewabah dan menjadi permasalahan baru adalah inertia kebudayaan dalam tiap pranata masyarakat. Phobia akan modernisme kemudian memudarkan makna substansial dari kebudayaan.
Budaya yang sediakalanya merupakan proses yang ditempuh melalui kerja keras dan usaha berfikir para pendahulu kita, kini mengalami penyusutan langkah menjadi sebuah objek yang harus di awetkan, bahkan jika perlu sampai karatan.
Jika dalam ilmu fisika kita diperkenalkan dengan hukum kekekalan energi, maka dalam ranah negosiasi dan resolusi konflik kita dihadapkan pada hukum kekekalan konflik, yakni, konflik tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, yang ada hanyalah dinamisme sebuah konflik untuk bertransformasi menjadi sebuah konflik baru.
Dari hukum kekekalan konflik tersebut, kita semua terseret pada sebuah transformasi penjajahan dunia era baru menjadi sebuah phobia modernism yang berujung pada kejumudan kreatifitas yang tidak lagi menggelitik kita untuk terus berpikir kepada keterbukaan dari budaya lama menuju budaya yang lebih baru, yang otentik dan tetap menjaga keaslian jati diri.
Madura : antara fenomena gegar budaya dan pengkultusan warisan leluhur.
(bersambung ke “Kebutuhan Madura akan Budaya yang Terbaharui” part 2)
Jakarta, 2010
Baca selengkapnya »

